Kategoti: Berita Featured

Tak Ikut Deklarasi, Sandi Diusir Wowo?

Share

Pilpres 2019 ini masih punya kesamaan dengan Pilpres 2014. Sama-sama ada klaim kemenangan dari Wowo, sama-sama ada sujud syukur berjamaah atas kemenangan yang sebenarnya hoax.

Bedanya, kemarin Sandi tidak ikut deklarasi kemenangan dan sujud syukur bersama Wowo. Erwin bilang Sandi sedang sakit, cegukan dari jam 10 pagi, sehingga tidak bisa mendampingi Wowo. Sementara Ferdinan kancut merah menyebut Sandi sedang menemui ulama dan purnawirawan.

Dua kali Wowo beri keterangan dan klaim kemenangan, dua kali pula Sandi tidak ikut mendampingi. Dua alasan dari Erwin ataupun Ferdinan kancut merah terdengar tidak masuk akal. Karena bagaimanapun, klaim atau deklarasi kemenangan harus dilakukan bersama-sama.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Menurut informan Seword yang kemarin hadir di Kartanegara, ada insiden pengusiran. Sandi diusir oleh Wowo karena memberi saran untuk tidak melakukan deklarasi apapun sebelum putusan resmi KPU. Saran ini dimaksudkan untuk menjaga etika politik, agar cerita kekalahan 2014 tidak terulang di 2019.

Mendengar saran Sandi, Wowo pun langsung naik pitam dan marah-marah. Gebrak meja lagi. “Apa alasan anda?!” tanya Wowo dengan suara meninggi. Sandipun mengingatkan tentang pentingnya etika politik.

“Silahkan anda keluar dari koalisi ini,” jawab Wowo. Sementara Sandi masih diam seribu bahasa, menenangkan suasana.

“Artinya sodara secara tidak langsung mendukung pasangan “bajingan” menang,” ucap Wowo lagi.

“Saya lebih baik kehilangan nyawa dibanding kehilangan harga diri, klaim menang taunya yang dilantik oran lain,” jawab Sandi.

Sandi sebenarnya sempat ingin menjawab, namun suasana sudah sangat panas. Presiden PKS dan beberapa orang ikut menenangkan dan membawa Sandi keluar. Sementara geng Wowo yang didampingi beberapa tokoh ormas radikal, tetap melakukan deklarasi kemenangan.

Cerita ini sudah beredar di kalangan wartawan yang hadir di Kartanegara kemarin. Cerita ini juga juga pasti diketahui oleh orang-orang yang berada di atas panggung untuk mengklaim kemenangan. Namun pada akhirnya mereka tetap melanjutkan sandiwara ini.

Maka jika kita melihat beberapa orang tidak hadir dalam deklarasi kemenangan, ya itu karena mereka tak mau menanggung malu untuk 5 tahun ke depan. Sebaliknya, para pendamping Wowo kemarin memang adalah orang-orang yang sebelumnya sudah sangat-sangat memalukan.

Semula saya pikir Wowo ini hanya dipengaruhi oleh politisi busuk di sekelilingnya, yang membodoh-bodohinya lewat quick count abal-abal. Tapi nampaknya Wowo sendiri juga bodoh maksimal. Ya bayangkan, 2014 dia sudah dibodoh-bodohi, sekarang masih juga dibodoh-bodohi. Kayak keledai yang jatuh di lubang yang sama.

Wowo nampaknya sangat frustasi dan ambisius ingin menang. Bukan hanya terlihat dari berkali-kali ikut Pilpres, tapi juga sudah dua kali mengklaim menang padahal kalah.

Setelah dipecat dari militer, nampaknya tujuan hidup Wowo hanya berkuasa. Karena hanya dengan memegang kekuasaan itulah dia bisa memimpin TNI, institusi yang dulu memecatnya.

Sementara Sandi, nampaknya dia sadar betul bahwa karir politiknya masih sangat panjang. Dia tentu tak ingin ditertawakan. Sebagai pengusaha dan kalangan terdidik, Sandi juga pasti tak mau melawan teori statistik.

Sandi masih bisa kembali mengambil kursi Wagub DKI yang ditinggalkannya beberapa waktu lalu. Sandi juga masih punya kans yang sangat besar untuk maju di Pilpres 2024. Maka wajar kalau dia sangat hati-hati.

Sekalipun Gerindra tak mau lagi mendukung Sandi di Jakarta maupun Pilpres 2024, tapi fakta menyebutkan bahwa Sandi adalah satu-satunya orang dengan elektabilitas tertinggi dibandingkan Wowo. Bahkan kalau Wowo harus melawan Sandi di 2024, Wowo pasti akan kalah lagi.

Tapi walau bagaimanapun, ini hanya cerita dari kejadian yang cukup emosional dan spontan. Wowo mungkin sedang emosi, Sandi juga lagi emosi. Keduanya bisa rukun lagi dalam beberapa waktu ke depan, setelah Wowo bisa menerima kekalahannya. Sehingga akhirnya Sandi bisa kembali menjadi Wagub DKI.

Kita doakan tensi darah Wowo tetap stabil, agar beliau diberi kesehatan dan bisa hadir dalam pelantikan Presiden Jokowi dan Kiai Maruf Amin. Karena kalau sampai Wowo sakit atau bahkan meninggal, bisa-bisa aneka macam hoax akan tercipta dengan beragam teori konspirasi. Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi. Begitulah kura-kura.

sumber: seword.com

Terkini

  • Berita
  • Featured

Aksi 22 Mei Banyak Korban dan Kerugian, Prabowo Harus Tanggung Jawab!

Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin mendesak Prabowo Subianto untuk bertanggungjawab atas kericuhan yang terjadi di Jakarta. Menurut mereka,…

2 menit lalu
  • Berita
  • Featured

Dua Korban Tewas Bukan Karena Tembakan, RSUD Tarakan Tegaskan Tidak Ada Proyektil

RSUD Tarakan mengonfirmasi dua korban meninggal dunia usai kerusuhan yang terjadi di sejumlah titik di Jakarta pada Rabu, (22/5). Kedua…

44 menit lalu
  • Berita
  • Featured

Temukan Amplop Berisi Uang, Polisi Usut Massa Bayaran Pelaku Kerusuhan

Polisi menduga kericuhan yang terjadi pasca bubaran aksi demonstrasi di depan gedung Bawaslu dipicu oleh massa bayaran. Sejumlah amplop berisi…

56 menit lalu
  • Berita
  • Featured

Bajingan! Pelaku Kerusuhan Sengaja Pancing Polisi Masuk Masjid, Nanti Koar-koar Penistaan Agama

Bentrokan antara sekelompok massa dengan polisi terjadi di Petamburan, Jakarta. Polisi membubarkan massa di depan Masjid Jami An Nur dengan…

1 jam lalu
  • Berita
  • Featured

Rusuh 22 Mei Dini Hari By Design, Settingan, Polisi Temukan Amplop Berisi Duit

Polri menyebut kerusuhan dekat Bawaslu dan Jl KS Tubun pada 22 Mei dini hari diduga terorganisir. Polisi menyita sejumlah bukti…

1 jam lalu
  • Berita
  • Featured

Tanggung Biaya Pengobatan Pelaku Kerusuhan, Anies Baswedan Mau Suburkan Kelompok Radikal di DKI Jakarta?

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menanggung biaya perawatan semua korban aksi 22 Mei. Ada pula yang akan ditanggung oleh BPJS.…

2 jam lalu