Kategoti: Berita Featured

Mau Golput? Baca Dulu Perjuangan Jutaan Buruh Migran Ini untuk Bisa Mencoblos, Siapkan Tisu…

Share

Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah menceritakan perjuangan jutaan Buruh Migran asal Indonesia agar dapat mencoblos dalam pemilihan umum 2019 di Facebook, begini isinya:

Berkali-kali saya terharu dan mata saya basah selama beberapa hari ini memantau Pemilu di Kualalumpur Malaysia.

Bagaimana tidak, buruh migran yang selama ini lekat dan selalu di rundung berbagai masalah, tetap mencintai negaranya dengan tulus.

Saya melihat langsung bagaimana antusiasme mereka untuk mencoblos pada pemilu 2019 menguat dibanding sebelumnya dengan upaya yang tak biasa.

Mereka berjuang meminta dokumen yang ditahan majikannya, mengeluarkan uang yg tidak sedikit utk biaya transportasi untuk menuju tps, berpeluh dg terik dan hujan dalam desak-desakan ribuan antrean yang mengular hingga berkilo2.

Merekalah para pejuang demokrasi yang sesungguhnya.

Saya bersama Makcik, Siti Badriyah memantau di KL, beberapa teman Migrant CARE yg lain menyebar di Johor Bahru, Singapur, dan Hongkong.

Tantangan memantau disini berlapis, karena mekanisme memilih tidak hanya melalui TPS tetapi juga pos dan KSK (Kotak Suara Keliling).

Total DPT di seluruh Malaysia 633.670 (67%) dari DPT luar negeri yang mencapai 2.086.285 pemilih yang tersebar di 6 negara bagian: Kualalumpur, Johor Bahru, Kota Kinabalu, Kuching, Penang dan Tawau dimana DPT Kualampur paling besar yaitu 558.873.

Di Kualalumpur, pemilih terbanyak menggunakan pos sejumlah 319.293, KSK 112.536 di 376 titik dan TPSLN sebesar 127.044. Realisasinya?

Kami mengawali pemantauan pada hari Jumat, 12 april 2019 dan memantau pemilihan melalui KSK. Pada hari jumat kami mulai memantau mobilitas KSK.

Hingga pukul 00.00 KSK masih berdatangan dari berbagai titik ke KBRI Kualalumpur.

Tak jarang yang jaraknya 7 jam dari KBRI, seperti Trengganu, Kelantan, dll.

Seperti cerita dari dari bu Nafiah, KPPSLN KSK Trengganu 1578, membutuhkan 14 jam utk pulang pergi membawa KSK.

Bu Nafiah dan teamnya 2 orang berangkat pada hari jumat, 12 april, jam 11, tiba di Trengganu pukul 5 sore.

Disana mulai memilih pukul 7-12 malam dan hanya ada 62 pemilih.

Bisa dibayangkan tingkat perjuangannya dengan jumlah pemilihnya.

Beliau dan teamnya menginap satu malam di mobil dan tidak tidur karena takut.

Dalam KSK tersebut tidak ada saksi dan panwas besertanya.

KSK itu menyediakan pemilihan untuk pekerja ladang/perkebunan kelapa sawit al fikri.

Saat menjumpai bu Nafiah di KBRI yang baru datang dari Trengganu, nampak dari wajahnya yang tidak sempat tidur, tidak mandi, tidak berganti pakaian dan pucat.

Bu Nafiah adalah seorang buruh migran yg bekerja sbg cleaner berasal dari Madura dimana tahun ini mendaftar sbg KPPSLN.

Banyak buruh migran yang menjadi anggota KPPSLN.

Lain lagi cerita di KSK 122 yang berlokasi di Gumut Tambahan Kuala Kubu Baru Selangor, jarak tempuh 2 jam dari KL.

Saya dan mba Siti Badriyah turut memantau langsung perjalanannya dengan ikut mobil yang membawa KSK dengan 3 orang petugas kppsln dimana salah satunya adalah buruh migran.

Gumut jauh dari hingar bingar kota, karena berlokasi di kawasan perkebunan. Kami berangkat dari KL jam 11 dan tiba di lokasi jam 1.

Untuk masuk ke lokasinya perlu melewati jalan makadam berkilo-kilo.

Tak kebayang sebelumnya bahwa di pedalaman ini dan persis di bawah bukit nan indah, merupakan kampung buruh migran.

Ketika tiba di lokasi, saya langsung merasa seperti pulang kampung, obrolan dalam bhs jawa mengalir dengan renyah.

KSK bertempat di emperan warung milik buruh migran. Emperan/teras samping warung disulap jadi tempat bilik suara dan pendaftaran pemilih berlokasi di gubug kecil berukuran 2×2 M di depan warung yang beratap seng yang dilengkapi dengan meja dan 4 kursi plastik.

Sudah kebayang panasnya?

KSK dibuka pukul 13.30 dengan dihadiri saksi dr 01 dan 02 minus panwas LN tapi bonus 2 pengawas dr Migrant CARE hehehe.

Para pemilih mayoritas pekerja perkebunan sayur, peternak ayam dan kilang.

Mereka berasal dari Bojonegoro, Tuban dan Lamongan, satu daerah dg saya.

Dari jam 13.30- 17.00 pemilih yang datang tidak banyak, 2-3 orang datang bergantian dengan motor, rata-rata mereka datang setelah dapat ijin 1-2 jam dr majjkannya, setelah mencoblos, kembali bekerja.

Siang itu, terik matahari sedang memuncak.

Karena kami dikampung perkebunan, maka teman2 buruh migran yang disekitar situ mengambilkan kelapa muda dan kt minum rame-rame.

Disekitaran warung merupakan kebun buah, ada nanas, sirsak, durian, pisang, cabe dan kangkung juga ada.

Disela2 sedang tidak ada pemilih, saya dan makcik blusukan ke kebun buah menikmati suasana dingin dan memotret buah-buahan.

Kami juga jalan sebentar ke sungai kecil yang tidak jauh dari situ, ada 2 buruh migran yang sedang mencari ikan dan dapat 1 karung, hasrat untuk ingin nyemplung dan berburu ikan sebenarnya sangat kuat, tapi kami tahan hehe.

Sore hari setelah pukul 17.00 baru berdatangan rombongan buruh migran yang bekerja di kilang agak banyak, 50an orang.

KSK ditutup jam 19.00 dengan total pemilih 212 orang, dimana 52 pemilih dr DPT dan 160 dari DPK ( daftar pemilih khusus) yang tidak terdaftar.

Jam 19.00 kami kembali ke KBRI Kualalumpur dengan menenteng pisang tanduk oleh2 dari kebun buruh migran.

Kami tiba jam 22.00 di KBRI, malam itu 130an KSK datang dari berbagai titik dengan total pemilih sekitar 27 ribuan, hsnta 30% dari DPT KSK yang berjimlah 112.536.

KSK sesungguhnya bentuk jihad demokrasi jika melihat perjuangannya menjumpai pemilih, namun disisi lain juga rentan pelanggaran karena minim pengawasan, mayoritas KSK di KL tanpa pengawas.

Tanggal 14 april, hari minggu kami memantau pemilu di TPSLN.

Di Kualalumpur semestinya ada 14 titik lokasi untuk 200 TPS dengan total pemilih dalam DPT 127.044 pemilih.

Namun hari sabtu jam 23.00 baru ada informasi, bahwa TPS hanya ada di 3 titik: KBRI, SIKL, dan wisma duta.

Bisa dibayangkan pemilih pasti membludak, dari 14 titik mengerucut ke 3 titik.

Saya dan Safina memantau di KBRI, makcik dan Rom di SIKL dan Zana di wisma duta.

Di KBRI direncanakan ada 27 TPS yang kemudian disulap menjadi 78 TPS, dan malamnya bertambah lagi 3 TPS.

Jam 08.00 pagi saat kami memasuki KBRI, antrean panjang di pinggir trotoar sudah mengular.

Saat masuk KBRI, saya agak tercekat kok tidak ada tenda yang dipasang, bagaimana kalau panas dan hujan?.

Dan hanya ada 5 meja untuk pendaftaran. Jam 9 pagi teriakan mulai terdengar dr antrean pemilih di luar pintu gerbang KBRI: mereka meneriakkan panas, buka pintu, saya mau milih, saya cinta indonesia dan saling bersahutan yel2 Jokowi Prabowo.

Jam 10 antrean makin berjubel, teriakan makin kencang dan pintu gerbang mulai di tendang2 yang kemudian disambut dengan suara gemuruh.

Banyak yang pingsan kepanasan, ada seorang ibuk hamil yang mengalami pendarahan karena kedorong, anak2 yang digendong ibunya menangis.

Beberapa pemilih saya dekatin, datang dari jauh, ijin ke majikan.

Mayoritas mereka ketahan, tidak masuk karena tidak terdaftar dan msk DPK.

Menurut PPLN, DPK baru bs memilih pukul setelah pukul 3 sore.

Banyak yang sudah lolos bs msk gerbang KBRI, akhirnya disuruh pulang lagi dan diminta kembali pukul 3 sore.

Beberapa buruh migran mendekati saya minta agar bisa milih.

Melihat perkembangan situasi yang makin tidak kondusif, jam 10 saya menemui pak Hasyim Asyari, komisioner KPU,saya menyampaikan agar pemilih DPK diberi afirmasi utk bisa memilih tanpa menunggu jam 3.

Beliau mengatakan itu bisa dilakukan, tapi harus koordinasi dg Bawaslu dan ada rekom dr Panwas LN.

Sy menghubungi keduanya, bu Dewi Patalolo komisioner Bawaslu dan Yaza panwas KL.

Kami berdiskusi mempertimbangkan pemilih DPK agar bs memilih tanpa menunggu jam 3 sore.

KPU dan PLLN memggelar rapat utk mengidentifikasi ketersediaan kertas suara. Bawaslu dan Panwas LN juga rapat.

Lalu ada rapat antar mereka. Kami sebagai pemantau tentu menunggu diluar ruang rapat. Jam 11.30, rapat mereka setelah dan diputuskan DPK bisa memilih sejak jam 12 dan PPLN mengumumkan di depan KBRI. Yesssss!!!!!

Pengmuman itu disambut suara gemuruh dan yel2.

Ribuan antrean diluar mulai masuk tanpa dipilah DPT dan DPK, antrean mengular pindah di halaman KBRI.

Online system pungutan suara sempat down 1 jam sehingga hrs dilakukan manual.

Meja pendaftaran dari 5 berubah mnjd 15 meja.

Saya melihat mereka mandi keringat, baik kppsln maupun antrean pemilih.

Cinta mereka utk indonesia mengalahkan terik, hujan, berjubel, pingsan. Jam 16 antrean mulai surut, apalagi hujan turun jam 16-17 sangat deras, banyak yg tidak sempat berteduh.

Sekitar pukul 19.00 tpsln KBRI KL ditutup.

Petugas tps mulai merekap jumlah pemilih.

Namun pukul 19.30an terdengar suara gemuruh di luar pagar kbri.

Ada 200an buruh migran yang akan milih tapi tidak bisa masuk karena TPS sudah tutup.

Saya mendekat ke pintu gerbang, mereka bernegosiasi dg satpam agar bisa masuk.

Saat saya datang, suasana tegang dan mereka bertetiak minta nyoblos.

Ibu2 paling depan, saya pegang bajunya basah.

Saya tanya, katanya kehujanan dan udah mondar mandir dari tps sikl ke kbri 2 kali, mereka sudah 7 jam berjuang.

Saya ngobrol dengan ppln, akhirnya bisa masuk. Ppkn dan panwas rapat untuk memutuskan bisa nyoblos atau tidak dan keputusannya bisa.

Karena tps sudah tutup, maka dibuatkan 3 tps baru.

Mereka berbaris tertib, mungkin sebagian masuk angin karena kehujanan dan belum makan.

Saat menunggu kesiapan tps, ppln mengajak kita melantunkan Indonesia Raya, pipi saya basah karena air mata, saya lihat banyak juga yang menangis karena akhirnya bisa nyoblos.

Jam 21.00 pencoblosan dimulai dan berakhir pukul 22.00.

Diperkirakan ada 20an ribu pemilih di KBRI KL karena rekap tadi malam belum selesai.

Pemilu belum selesai, penghitungan baru akan dilakukan tanggal 17 april, mari kita kawal bersama.

Yang beredar bhw ada paslon yang menang di malaysia, itu HOAKS.

Oh ya, saya juga ikut berjubel utk antri mencoblos disini karena saya masih di KL sampai penghitungan 17 april.

Salam demokrasi
Kualalumpur, 15 April 2019
Anis hidayah

Terkini

  • Berita
  • Featured

Viral! Butuh Dana untuk Operasi, Netizen Doakan Trinity dan Alvaro Korban Bom Gereja Samarinda 2016

Seorang netizen menulis cuitan mengingatkan masyarakat pada korban serangan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Minggu (13/11/2016) pagi. Saat itu korban…

14 jam lalu
  • Berita
  • Featured

Ngakak! Tim Prabowo Gunakan Link Berita dari Media Abal-abal

Kuasa Hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Denny Indrayana bersikukuh tautan berita media massa online yang digunakan kubunya untuk mempermasalahkan kemenangan Jokowi- Ma'ruf Amin sah dan bisa menjadi bukti…

14 jam lalu
  • Berita
  • Featured

Viral! Apa Kabar Kontribusi Tambahan Reklamasi 15 Persen

Viral di twitter kultwit dari akun @PartaiSocmed yang menguliti kontribusi tambahan 15 terkait reklamasi Teluk Jakarta. Begini isinya: "Sekarang sedang…

14 jam lalu
  • Berita
  • Featured

Keberpihakan Anies, Bongkar Bangunan Rakyat Miskin, Proyek Reklamasi Sudah Disegel Malah Dikasih IMB

Seorang netizen membagikan ke twitter sebuah artikel berjudul "Jumlah Bangunan Tanpa IMB Dibongkar di Jakarta Barat Lebih 500 Bangunan Tiap…

16 jam lalu
  • Berita
  • Featured

Artikelnya Dicatut Kubu Prabowo, Prof Australia: Saya Tak Bilang Jokowi Otoriter

Seorang netizen menulis cuitan mengomentari artikel berjudul "Prof Australia Protes Keras Dikutip Prabowo: Saya Tak Bilang Jokowi Otoriter " yang…

16 jam lalu
  • Berita
  • Featured

Berubah jadi kampret, Mantan Penasihat KPK Jadi Korlap Demo di Depan MK

Seorang netizen membagikan sebuah artikel berjudul "Mantan Penasihat KPK Jadi Korlap Demo di Depan MK" yang tayang di situs Kumparan.com,…

18 jam lalu